Sekilas Al Akbar
- Sejarah
- Struktur Organisasi
- Manajemen
- Direktorat
 
Fasilitas
- Perpustakaan
- Ruangan
- Menara
- Radio SAS FM
- Poliklinik
- Klinik Islami
- Database Jama'ah
 
Program
- Ma'had Aly
- LAZ MAS
- Kajian
- TPQ
 
Organisasi
- Remas
- Pengamal
- Hisamal
- Karang Werda
- Club Jantung Sehat
- Forkomas
 
Anda Pengunjung ke :

 
 
 
Detil Khutbah

KH Abdusshomad Buchori

Batas-batas Toleransi Antar Umat Beragama

24-10-2014 | 09:09:36

Toleransi dalam bahasa agama adalah tasamuh. Istilah toleransi ini janganlah didramatisir, dibuat suatu konsep sedemikian pula lalu mecampur aduknya. Jadi sudah ada petunjuk jelas di dalam agama, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Dalam Islam ada ajaran aqidah (iman), syariah (Islam), dan akhlak (ihsan). Akhir-akhir ini memang banyak orang memberikan makna toleransi sengaja agar masyarakat tidak faham. Ada orang yang sengaja mendistorsi makna toleransi dengan tujuan tertentu sehingga membuat makna toleransi menjadi rancu. Sehingga ada suatu kelompok yang mengusulkan pada saat bulan suci Ramadan umat Nasrani boleh mengadakan shalat tarawih kemudian buka bersama di dalam Gereja. Ini secara faktual memang ada upaya, dengan dalih kerukunan umat beragama. Dalam kesempatan ini kami menjawab, bahwa hal seperti itu tidak boleh. Haram. Sebab yang ingin dibangun oleh Islam dalam hal toleransi adalah masalah-masalah sosial, misalnya ketika orang terkena musibah, atau problem yang menyangkut masalah kemanusiaan, umat Islam tidak mempermasalahkan. Ketika kita bertetangga dengan orang non muslim, kemudian dia sakit, kita boleh membesuk, kita boleh membawa oleh-oleh untuknya. Atau ketika dia punya hajat mantu, kita boleh untuk menyumbang (Jawa:buwuh). Atau ketika umat Islam menemui orang yang sedang kecelakaan harus menolong dan tidak perlu menanyakan terlebih dahulu agamanya apa. Jadi secara kemanusiaan, umat Islam memberikan toleransi untuk saling menolong dan membantu yang membutuhkan bantuan. (Al Maidah:2) Ketika menyangkut masalah aqidah dan syirik Islam sangat tegas, sebagaimana ditegaskan dalam surat Al Kafirun : 1-6.

Jadi jika umat Islam diminta untuk hadir dalam acara natalan, MUI (Majelis Ulama Indonesia) telah mengeluarkan fatwa pada tanggal 7 Maret 1981 yang waktu itu ketuanya Buya HAMKA, dengan tegas menyatakan bahwa menghadiri natalan bersama adalah haram. Dan keputusan hukum itu sampai sekarang tidak dicabut. Jadi kalau umat Islam sapapun dan mempunyai jabatan apapun jika diundang oleh umat Kristiani, haram menghadirinya. Mengamini doa umat lain yang berkeyakinan beda, yang mempunyai tuhan berbeda, jika kita mengamini, berarti menyetujui mereka, inilah yang menjurus kepada perbuatan syirik. Rasulullah SAW bersabda : Ad du’aa’u muhhul ibaadah (doa adalah otaknya ibadah). Kalau kita cermati kegiatan doa bersama ini adalah merupakan taktik, dan merupakan skenario global, yang tujuan utamanya adalah merusak aqidah umat Islam di Indonesia yang mayoritas. Karena mereka tidak akan mungkin memeranginya dengan fisik, karena akan sia-sia. Untuk itu, umat Islam harus memahami betul, sehingga tidak salah dalam bersikap. ( Al Hujurat : 13)

Ayat ini jelas, tetapi banyak yang mempolitisir oleh anak-anak muda kita terutama meraka yang menamakan diri kaum liberal, liberalisme, sekularisme, pluralisme agama. Yang mereka menerjemahkan lita’aarofuu (saling mengenal), orang yang ingin mengenal harus masuk ke dalam kaum itu. Sehingga mereka memaknai bahwa orang Islam boleh menjadi panitia natal, orang Kristen boleh menjadi panitia Maulid. Inilah penafsiran yang keliru. Dan perlu diketahui di Indonesia sekarang ini ada sistem penafsiran yang disebut Hermenetika, yakni sistem penafsiran Al-Qur’an yang mendasarkan filsafat dari Yunani yang diusung oleh orang-orang Nasrani, karena Bibel ada ketidakjelasan bahasa aslinya. Sistem ini berangkatnya dari keraguan, sehingga kalau diterapkan dalam menafsirkan al-Qur’an pun juga harus ragu terlebih dahulu. Dalam aqidah Islam, orang Islam tidak boleh tidak percaya kepada Al-Qur’an. Kalau seorang muslim ragu kepada satu ayat saja dalam Al-Qur’an bahkan satu huruf saja, maka orang ini dinamakan al Khuruuj minad diinil Islaam (keluar dari agama Islam). Orang Islam tidak boleh ragu terhadap Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an sejak dahuu sampai sekarang orisinil, sesuai yang diterima Rasulullah Muhammad SAW. Al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan kepada Muhammad SAW, dengan perantara Malaikat Jibril yang disampaikan kepada umatnya yang mutawatir, yang terjaga dari dusta.

Dari sini saya kira kita sudah mempunyai gambaran secara umum, bahwa ketika kita berbicara masalah aqidah, dan ibadah maghdhoh, tidak boleh dicampuradukkan. Jika seorang muslim yang menjadi pejabat diundang mereka sebagai pengayom, saya kira hadir boleh saja, tetapi tentu yang hanya seremonial saja dan hati-hati jangan sampai mengikuti bagian dari ibadah mereka. Sehingga kalau meniup lilin kemudian doa bersama, harus dihindari, karena ini sudah termasuk syirik. Tetapi bagi kita muslim yang tidak mempunyai jabatan apa-apa, untuk apa menghadiri? toh kita Jumatan tidak pernah mengundang mereka. Umat Islam shalat Ied juga tidak pernah mengundang mereka. Tarawih juga tidak pernah mengundang mereka. Dan agama selain Islam, cara ibadahnya tidak begitu jelas, karena mereka tidak punya kitab fiqih. Sehingga natalan, menyanyi dengan diiringi instrument itulah ibadahnya. Namun kalau umat Islam jelas perbedaannya, misalnya halal bihalal, bukan termasuk ibadah maghdhah. Jadi Islam ini agama yang mencakup seluruh segala aspek. Ibadahnya saja sudah diatur, yakni ada yang maghdhah dan ghoiru maghdhah.

Di Indonesia memang banyak faham-faham yang disebarkan, sebagian mereka adalah sengaja diberi beasiswa ke luar negeri yang mereka dicekoki oleh faham-faham tertentu sehingga menjadikan Indonesia yang sudah damai ini, diusik. Bagaimana umat Islam yang mayoritas ini aqidahnya keropos. Ini memang ada unsure kesengajaan. Ini sangat berbahaya, karena banyak umat Islam sendiri yang tidak faham akan ajarannya, mereka lebih cenderung kepada duniawi, mereka mengejar terus untuk mencapai perekonomian yang tinggi walaupun dengan berbagai cara. Produk-produk disebarkan kepada kita, tetapi tidak jelas mana yang halal mana yang haram. Ini memang disengaja agar muslim yang terbesar di Indonesia ini lemah, karena mereka takut akan kebangkitan umat Islam dari Indonesia. Jadi umat Islam dalam toleransi harus mengukur, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Yang bersifat sosial umat Islam harus banyak wawasan keagamaan, kebangsaan dan pembangunan. Wawasan keagamaan untuk mengetahui hukum-hukum keagamaan sehingga tahu mana yang boleh mana yang tidak boleh menurut agama, mana yang haram, mana yang dianjurkan. Wawasan kebangsaan, untuk mengetahui sejauh mana kita bisa bergaul dengan non muslim dan masyarakat pada umumnya yang sesuai dengan ajaran agama dan hukum Negara. Wawasan pembangunan adalah kita harus punya cita-cita untuk menjadi lebih baik di masa yang akan datang, punya komitmen membangun bangsa dan Negara. Kita harus cinta tanah air sebagai NKRI, tetapi kita juga harus tetap cinta kepada agama kita. Jangan sampai karena konsep pembangunan,lalu luntur keimanan, hancur akhlak kita.

Khutbah sebelumnya :

  • Menyongsong Era Baru Kepemimpinan Nasional
  • Ekonomi Islam dan Konvensional
  • Menegakkan dan Memelihara Keutamaan Islam
  • Memupuk Jiwa Berkurban
  • Dunia Adalah Ladang Akhirat
  • Kemerdekaan yang Hakiki
  • Urgensi Mengajak Kepada Kebaikan
  • Manusia Adalah Makhluk Fitri
  • Dusta Merupakan Sumber Malapetaka
  • Mempersiapkan Diri Menghadapi Bulan Suci
  • Menjaga Diri Dengan Yang Halal
  • Menimba Hikmah Kisah Nabi Isa a.s.
  • Akibat Orang Yang Menukar Ayat-Ayat Allah
  • Manajemen Dakwah Efektif Aplikatif
  • Kedekatan Manusia di Sisi Allah Swt
  • Membangun Karakter Asmaul Husna
  • Keutamaan Jihad Dengan Harta
  • Keteladanan Rasulullah Saw
  • Kearifan Lokal Dalam Perspektif Islam
  • Mendalami Makna Ukhuwah
  • Peran Ulama’ Dalam Kehidupan Bernegara
  • Islam Agama Universal
  • Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an
  • Tugas Rasul Penyempurna Akhlak Manusia
  • Meneladani Figur Rosulullah SAW
  • Makna Muhasabah (Evaluasi Diri)
  • Petunjuk Rasulullah Tentang Alam Kubur
  • Islam Dan Terjaganya Perilaku
  • Membentuk Muslim Unggul
  • Ilmu Waris, Bagian Dari Agama dan Setengah Dari Ilmu
  • Menggapai Derajat Dengan Ilmu Pengetahuan
  • Upaya Mewujudkan Khoira Ummat (Umat Tebaik)
  • Amalan-Amalan Dalam Rangka Mengisi Tahun Baru Hijriyah
  • Syukur Menjadi Bangsa Indonesia
  • Spirit Tahun Baru Hijriyah
  • Indikator Haji yang Mabrur
  • Penerapan Nilai-Nilai Islam dalam Peradaban Masa Kini
  • Problematika Umat
  • Seputar Ibadah Haji dan Umrah
  • Kemiskinan dalam Pandangan Islam
  • Muslim Selektif Produktif
  • Syahadat, Makna dan Konsekuensinya
  • Menata Hidup dan Kehidupan Dalam Perspektif Islam
  • Urgensi Mempertahankan Kualitas Ibadah
  • Tasamuh, Ta’awun dan Tadlomun
  • Sillaturrahim Dalam Lebaran
  • Kewajiban Dakwah Dalam Berbagai Situasi dan Kondisi
  • Keluh Kesah Manusia Dalam Hidup
  • Amalan-Amalan Penguat Iman
  • Mempertahankan Aqidah di Tengah Benturan Budaya
  • Antara Hak dan Tanggung Jawab
  • Meyakini Kebenaran Ayat-Ayat Al Qur’an
  • Menjaga Diri dan Keluarga dari Api Neraka
  • Nilai Kehidupan
  • Konsep Islam Mengikis Korupsi
  • Shalat Kematian
  • Mempertanyakan Ukhuwah Kita
  • Tiga Faktor Utama Kebahagiaan
  • Menyelaraskan Perkataan Dengan Perbuatan
  • Mengenal Penyakit Hati
  • Pentingnya Menuntut Ilmu dan Kewajiban Mengamalkannya
  • Lezatnya Iman
  • Prinsip-Prinsip Universal Toleransi Antar Umat Beragama
  • Islam, Ya'luu Walaa Yu'laa 'Alaih
  • Islam, dan Ajaran Jihad
  • Kisah Teladan Sahabat Nabi Muhammad Saw
  • Membumikan Akhlak Mulia Dalam Kehidupan
  • Nabi Isa, Kisah dan Hikmahnya
  • Antara Iman dan Amal Sholih
  • Nabi Muhammad Saw, Figur Teladan Umat
  • Menggapai Derajat Siddiqin
  • Dahsyatnya Kiamat dan Tanda Kedatangannya
  • Makna Muhasabah (Evaluasi Diri)
  • Amalan Ahlus Sunnah Wal Jamaah
  • Berinvestasi Dengan Wakaf
  • Ilmu, Simbol Kejayaan Umat
  • Ijabah Do’a
  • Islam Dan Sistem Ekonomi
  • Menggapai Hidup Berkualitas
  • Muhasabah dan Muroqobah, Jalan Menuju Taqwa
  • Hikmah Memperingati Hari Pahlawan
  • Yang Diridhoi Dan Yang Dimurkai Allah
  • Hikmah Ibadah Haji
  • Esensi Haji Mabrur
  • Pola Hidup Sehat Menurut AlQur'an
  • Berdakwah Dengan Hikmah
  • Komunisme dan Bahaya Komunis
  • Cinta Allah Kepada Hambanya
  • Menjaga Diri Dari Makanan Dan Minuman Yang Haram
  • Wibawa Umat
  • Menuntut Ilmu Tanpa Batas
  • Rahasia Keberkahan Ramadhan
  • Menggapai Puncak Keimanan
  • Mendalami Makna Ukhuwah
  • Amalan Penting Menyambut Bulan Ramadhan
  • Memurnikan Niat, Menyongsong Bulan Ramadhan
  • Menempuh Jalan Lurus, Dunia Hingga Akhirat
  • Makna Isra’ Mi’raj Dalam Kehidupan
  • Kiat Memperbaiki Moralitas Bangsa
  • Membumikan Akhlak Rasulullah Saw
  • Membangun Generasi Rabbany
  • Kisah Nabi Isa Dalam Al-Quran Dan Injil
  • Kepemimpinan Rabbani
  • Sufi Dan Sufisme Di Era Global
  • Menggapai Hidup Bahagia
  • Penyakit Hati Dan Obat Penawarnya
  • Peranan Masjid Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Umat
  • Batas-Batas Toleransi Antar Umat Beragama
  • Bulan Kemuliaan Antara Islam Dan Jawa
  • Politik, Antara Norma Dan Realita
  • Aqidah Dan Akhlaq Seorang Pemimpin
  • Rasulullah Tauladan Sepanjang Zaman
  • Mengapa Syi'ah Bermasalah
  • Keunggulan Syariat Allah Swt
  • Hikmah Dzikrul Maut
  • Kiat Mengikis Tradisi Khurofat
  • Istiqomah Tahun 2012
  • Membangun Surga Dalam Keluarga
  • Menggapai Rahmat Allah
  • Hijrah, Upaya Mempertahankan Aqidah
  • Kewajiban Dakwah Bagi Setiap Muslim
  • Dakwah di Tengah Kemajemukan Umat
  • Islam Mengutamakan Kualitas Bukan Kuantitas
  • Menuju Arah Pendidikan Yang Ideal
  • Sucikan Harta Dengan Berderma
  • Terapi Penyakit Hati
  • Strategi Menghadapi Ghozwul Fikri
  • Hakekat Konsep Jihad Dalam Perspektif Islam
  • Urgensi Mengenal Produk Halal dan Baik
  • Mempertahankan Fithrah Manusia
  • Kembali Kepada Allah
  • Merenungi Alam Raya
  • Memperkokoh Ukhuwah Islamiyah
  • Merefleksikan Puasa Ramadhan
  • Tantangan Da'wah di Era Global
  • Kewajiban Memberantas Kemungkaran
  • Persiapan Menghadapi Puasa Ramadhan
  • Islam Agama Nasehat
  • Hak Terhadap Allah, Terhadap Diri Sendiri Dan Terhadap Sesama
  • Kontektualisasi Pemahaman Isra’ Mi’raj
  • Hidup Damai Dengan Islam
  • Doa, Senjata Orang Beriman
  • Kedudukan Wanita Dalam Perspektif Islam
  • Mengikis Budaya Korupsi
  • Cuci Otak
  • Menggapai Rahmat Dengan Taubat
  • Keseimbangan Investasi Dunia Akhirat
  • Urgensi Mendahulukan Kualitas Atas Kuantitas Dalam Beramal
  • Manusia-Manusia Unik Dalam Alqur’an
  • Amar Makruf Nahi Mungkar
  • Memupuk Kepedulian Sosial
  • Pilar-Pilar Kejayaan Islam
  • Keunggulan Ajaran Islam
  • Keagungan Akhlak Rasulullah Saw
  • Rasululloh Sebagai Uswah
  • Keteladanan Kisah Nabi Nuh As
  • Keutamaan Shalat Lail
  • Niat Pangkal Seluruh Aktivitas
  • Membentuk Keshalihan Ritual dan Sosial
  • Dunia Sebagai Ladang Akhirat
  • Muhasabah Tahun Baru
  • Batas-batas Toleransi Antar Umat Beragama
  • Do’a, Perisai Mukmin
  • Islam Agama Seluruh Nabi dan Rasul
  • Mengenang Kembali Makna Hijriyah
  • Risywah, Macam dan Bahayanya
  • Iman Sebagai Kekuatan Moral
  • Bahagia Saat Orang Lain Bahagia
  • Islam Kenikmatan Yang Agung dan Sempurna
  • Penyakit Sosial dalam Sorotan Syariat
  • Manusia Makhluk Fitri
  • Kiat Mencapai Derajat Taqwa
  • Riya’, Penyakit Amal Kebajikan
  • Membentuk Kesehatan Jasmani dan Rohani
  • Mengantisipasi Aliran Sesat
  • Urgensi Membaca dan mengamalkan Al-Qur’an
  • Musik Bata
  • Sedekah yang Barakah
  • Nilai Pendidikan Ramadhan
  • Dr. H. Imam Mawardi, MA
  • Nikah, Hakikat dan Urgensinya
  • Pengendalian Hawa Nafsu
  • Memberantas Kebodohan
  • Menggapai Hidup Barakah
  • Profil Manusia Bertaqwa
  • Akhlaq Mahmudah dan Akhlaq Madzmumah
  • Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  • Urgensi Ukhuwah Islamiyah
  • Syirik, Macam dan Bahayanya
  • Bersihkan Harta dan Hati untuk Bangun Negeri
  • Menghadapi Ujian Tahta Harta Dan Wanita
  • Majalah Al Akbar Online

    Edisi September 2014

    Judul :Kemerdekaan yang Hakiki

    Download Cover September 2014
    Download Layout edisi September 2014

     
    Khutbah Jumat

  • Menyongsong Era Baru Kepemimpinan Nasional
  • Ekonomi Islam dan Konvensional
  • Menegakkan dan Memelihara Keutamaan Islam
  • Memupuk Jiwa Berkurban
  • Dunia Adalah Ladang Akhirat

    Selanjutnya

  •  
    Khatib Shalat Jumat

    Jum'at, 17 Oktober 2014

    Prof DR H Ahmad Zahro, MA

    Tema : Menyongsong Era Baru Kepemimpinan Nasional

     
    Kajian Ahad Pagi

    AHAD, 19 OKTOBER 2014

    H. FARMADI, S. AG, M. PDI

    Tema : KESEDERHANAAN HIDUP RASULULLAH SAW.

     
     
     
     
     

    Copyright @ Masjid Nasional Al Akbar Surabaya
    Ikhlas Profesional
    Jl. Masjid Al Akbar Timur No.1
    Surabaya 60232 Indonesia
    +62 31 8289755-56, (F) +62 31 8286896